Who I Am Actually ?

" There is a lot of questions in my mind, actually who I am? However, I dont know how I must giving answer  that question. Maybe, that questions will answering by me in the next time. I promise 😊"

Begitulah aku, selalu ingin mencari tau siapa diri saya sebenarnya di setiap sudut kehidupanku. Aku adalah diriku yang selalu saja mengandalkan rasa penasaran itu sendiri hingga menghantuiku. Mungkin sama seperti kalian (ya, kalian yang sempat membaca blog ni, wkwk). Ya, namanya juga manusia sudah pasti menghadapi fase proses pencarian jati diri. Eits, tapi jati diri yang mana dulu nih? hmmm, jujur aku sendiri belum menemukan jawabannya hingga saat ini. 

Kisahku dimulai ketika aku sedang duduk di bangku kelas 2 SMA semester genap. Coba kamu tebak apa yang terjadi, hayooo. Kala itu yang kupersiapkan bukanlah belajar giat untuk menghadapi UN yang semakin dekat, namun sebaliknya saya malah menjadi siswa yang bisa dibilang membuat onar di sekolahku. Sampai pada akhirnya aku harus berurusan dengan guru, kepala sekolah, ibu dari teman lamaku yang kemudian menjadi penyebab masalah, dan juga tentu temanku yang kini menjadi musuhku. Lebih tepatnya musuh kami bersama. (sama siapa coba?) ya, sama teman se-gangku. 

Lanjut kisah, saya adalah kepala gang dari kelompokku. Seriuss, saya tidak bohong. Masa SMA adalah masa paling brutal bagiku. Masa dimana aku sering bermasalah di sekolah, tapi sebenarnya saya anak yang baik kok. Saya memiliki nilai yang baik dan juga sering mendapat predikat Juara 1 selama tiga tahun berturut-turut. Hanya saja, aku mulai menyadari bahwa yang salah adalah lingkunganku bergaul. Mau bagaimana lagi, aku sekolahnya di kampung belum mengerti seputar kajian islami dan sebagainya sehingga tentu saja aku terperangkap dalam lingkungan yang toxic. 

Darah muda dan amarah yang tidak bisa terkontrol, berakhir pada pertikaian dimana salah satu anggota gang kami, sudah tidak memiliki hubungan yang baik dengan kami. Namanya adalah ***ng, dia adalah penghiatan sejati. Kami yang memberikannya julukan itu. Karena dia selalu mengandalkan ibunya dan melapor padanya dengan munggunakan lisannya yang mampu merangkai kata² manis, alhasil aku ditemui ibunya di jalan daaaaan...yang terjadi saya dimaki, dipergoki, dan digantung, ibunya menarik bagian leher baju saya. Peristiwa itu terjadi sepulang sekolah. Yang paling menyakitkan bukan saja saya yang dimaki tapi juga ibuku. Bayangkan yang berulah adalah aku dan tentunya juga teman-temanku. Yang kena imbasnya adalah ibuku. Namun, yang menjadi topik pembicaraan hari ini adalah bukanlah tentang suatu 'permusuhan' tapi tentang bagaimana 'proses' yang saya lalui dalam menghadapi masalah tersebut, karena itu adalah yang paling bernilai. 

Manusia selalu belajar dari masa lalu. Begitulah mereka, yang akan menjadi dewasa sesuai berjalannya waktu. Pada 2018 lalu, saya keterima di sebuah perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara. Universitas Halu Oleo menjadi perjuangan dan rumah baru bagiku di tahun itu. Meski nilaiku adalah yang tertinggi di SMA, namun tidak demikian dengan nilai UN. Sehingga saya harus mengikuti seleksi jalur ke-dua yang dikenal dengan SBMPTN. Alhasil, hasilnya minim, masih tetap sama, nilaiku belum memenuhi untuk bisa keterima. Dann.. jalan terakhir adalah mengikuti jalur ke-tiga yaitu SMMPTN. 

Sebenarnya, mudah saja bagiku untuk menghentikan usahaku melanjutkan pendidikan di PT setelah usaha dan pengorbanan waktu, tenaga dan uang yang saya korbankan. Saya bisa saja memilih untuk membantu ibuku bertani dan menjadi petani di kemudian hari. Tapiii, ini adalah tentang sebuah KESADARAN. Kesadaran akan pentingnya sebuah pendidikan, yang telah ditanamkan ibuku dalam hati dan pikiran kami sejak ayah memilih pergi untuk merantau ke tanah Papua. 

Ayah saya pergi ketika saya kelas 2 SD, meski saya tidak mengingat berapa usia saya saat itu. Ayah meninggalkan ibu, saya, dan kelima saudaraku. Meski tujuan ayah pergi adalah untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah kami, nyatanya tidak seperti itu. Terbatasnya listrik di pedesaan serta kurangnya alat komunikasi dan jaringan, membuat semuanya hilang kabar hingga 12 tahun lamanya. Sehingga ibuku memutuskan untuk memperjuangkan kami seorang diri. Berkebun, berjulan ikan dan sayur di Pasar serta menjadi asisten rumah tangga di kota. Kami juga sering membantunya dengan berjualan makanan ringan, nasi bungkus bahkan berjualan di Pasar. 

Ibuku hanya memiliki satu permintaan kepada kami semua, bahwa kami tidak boleh putus sekolah apapun yang terjadi. Ibu selalu menyemangati dan menasehati kami untuk selalu menuntut ilmu setinggi-tingginya. Beliau bilang kalau nanti kami telah menamatkan sekolah dan mendapat kerja, maka hal itu sama baginya mendapatkan ijazah sarjana. Ibu juga bilang ''biar saya saja yang menjadi petani, kalian jangan''.

Perjuangan kuliah tentu tidak mudah, sebagai MABA (mahasiswa baru) saya belum memiliki hp pribadi. Jadinya, saya numpang ke kakak saya untuk mengetahui segala informasi perkuliahan, dimana saat itu dia sedang berada di semester 4. Uang kuliahku masih belum mencukupi sehingga saya berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan mimpiku dan mewujudkan apa yang menjadi cita-cita ibu. Saya tidak ingin mengecewakannya. Saya sempat apply beasiswa di semester awal tapi tidak lulus. Alhasil, saya mendapatkan beasiswa etos ketika duduk di semester 3. 

Rasa senang dan haru tentu saja muncul. Namun, tentunya juga tanggung jawab dan amanah yang besar juga dipikul dipundakku. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk semua pihak yang turut andil dalam mewujudkan cita-cita seorang anak untuk menjadikan dirinya lebih bermanfaat bagi sesama. Namun, lagi-lagi semuanya butuh kesabaran dan konsistensi dalam mewujudkannya. 

Komentar